Sabtu, 10 Januari 2009

membobol database

Paragraf Pertama
Kita langsung aja ke topik ya. Di sini saya menggunakan Billing Explorer versi 4.43 R-17 DeskPro 6.0s 2006 R.07 Security #5 Edition dan Passware Kit 7.7 untuk mengcrack passwordnya.

Seperti yang diketahui, seluruh program pasti mempunyai bug. Begitu juga dengan billing explorer versi ini juga mempunyai bug. Database yang digunakan ternyata tidak di enkripsi (Mungkin programmernya lupa kali ). Mereka hanya menggunakan MS Access sebagai database billing tersebut. Hanya saja dipassword dan diubah extensinya menjadi 008. Hal ini dapat dilihat pada saat Billing Explorer dirun. Pada folder billing (defaultnya terletak di C:\Program Files) akan terdapat file yang berextensi *.ldb (Microsoft Office Access Record Locking Information).




Ok !!! Kita mulai aja menghack billing . Pertama-tama cari file yang bernama bill01.008. Ubah file tersebut menjadi bill01.mdb. Buka file tersebut. Oppss… Ternyata meminta password. Gimana nih??? Tenang !!! Kita gunakan aja Passware Kit dari Lost Password yang dapat diperoleh dari http://www.lostpassword.com/. Eng..ieeennggg… Passwordnya = zzz*X%yZz@ZxzZzzqh. Ternyata hanya dalam hitungan detik passwordnya udah berhasil kita crack. Sekarang terserah Anda mau diapain tu database. Mau ditambah boleh. Mau dihapus juga bisa.


Semua Paragrap yang di sembunyikan

Read More…

amar ma'ruf nahi munkar

Paragraf Pertama

“Dia Yang telah mengutus Rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan atas seluruh agama yang lainnya meskipun orang-orang musyrikin membencinya.”
( Qs. At-Taubah : 33 dan Ash-Shoff : 9 )
الإِسْلامُ يَعْلُو وَ لا يُعْلَى
“Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkannya.” ( HR. Bukhori )

‘AQIDAH KETUHANAN
ISLAM Di dalam agama Islam masalah ‘aqidah ketuhanan terli-hat jelas pada prinsip ajaran Tauhid, yaitu hanya Alloh semata Tuhan seluruh alam semesta, sehingga yang ber-hak untuk disembah pun hanya Alloh semata.
YAHUDI Agama Yahudi meyakini keesaan Alloh dalam ketuhanan Nya, namun umat Yahudi meyakini bahwa Alloh memili ki putera, yaitu Uzair. Sehingga dalam peribadatannya se lain menyembah Alloh, mereka juga menyembah Uzair atau Ezra.


Semua Paragrap yang di sembunyikan

Read More…

Merajut Damai Melalui Integrasi Sosial Masyarakat

Paragraf Pertama
Sejalan dengan menurunnya intensitas konfik dan kekerasan di Indonesia, setidaknya memberikan secercah harapan bagi terciptanya Indonesia yang lebih damai dan kondusif. Namun demikian letupan-letupan kecil beraroma kekerasan masih marak terjadi di beberapa wilayah dengan latar belakang kasus yang berbeda-beda. Perdamaian jangka panjang dan harmoni setidaknya menjadi khayalan bersama, walau tidak mudah menggapainya.

Permasalahannya sekarang adalah bagaimana menjawab masalah dan tantangan atas pembangunan perdamaian jangka panjang yang berakar dalam kehidupan dan yang dapat menyahuti kebutuhan masyarakat sendiri?. Dalam hal ini bagaimana individu-individu dan institusi-institusi dalam masyarakat mampu mendorong kepercayaan, empati, simpati, ketertarikan, kerjasama, dan dialog sehingga tercipta masyarakat yang lebih damai.

Perdamaian yang diharapkan bukanlah ketiadaan kekerasan dalam berbagai bentuk, apakah itu bentuk fisik, sosial, psikologis, dan struktural semata (Reardon,1988). Tetapi terciptanya kesejahteraan, kebebasan, dan keadilan di masyarakat (Woolman, 1985). Tanpa itu tidak akan pernah terjadi kedamaian yang sesungguhnya di dalam masyarakat. Untuk mewujudkan itu semua, dibutuhkan integrasi sosial masyarakat yang utuh sebagai pilar utamanya.

Secara teoritis, menurut penganut fungsionalisme, integrasi sosial senantiasa muncul dan tumbuh berdasarkan konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar). Selain itu, integrasi bisa tercipta melalui berbaurnya anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliation). Jika suatu ketika terjadi konflik di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya maka akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial. Hal ini sekalan dengan pandangan Durkheim, dimana integrasi sosial diartikan sebagai suatu tingkat keterikatan tertentu terhadap kelompok-kelompok mereka.

Teori biasanya selalu berbeda dengan prakteknya. Dalam prakteknya, merajut dan menata loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) atau toleransi dalam bingkai integrasi sosial masyarakat sungguh sulit dan membutuhkan pengorbanan maha besar. Apalagi dalam konteks ke-indonesiaan, akar konflik atau kekerasan yang ada di tanah air ini terlanjur mengakar kuat baik konflik horizontal maupun konflik vertikal.

Kedua akar konflik tersebut setidaknya bersumber dari banyak muara yakni masalah-masalah social yang melatarbelakanginya seperti ketidakadilan, kemiskinan, kesenjangan sosial, konflik agama dan etnis serta perbedaan pandangan politik. Hingga akhirnya kekerasan menjadi jalan pilihan terakhir, perkara melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) atau tidak itu urusan lain. Jika demikian adanya maka jangan berharap banyak stabilitas nasional dan perdamaian akan terwujud, namun bahkan akan sebaliknya.

Kasus bentrokan antara AKKBP (Aliansi Kebangkitan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) dan Front Pembela Islam (FPI) di Monas misalnya menjadi sebuah bukti nyata bahwa demi mempertahankan keyakinannya masing-masing, akhirnya kekerasan menjadi pilihan terakhir. Walau akhirnya melabrak hak-hak asasi manusia beberapa pihak yang menjadi korban bentrokan tersebut.

Selama ini integrasi sosial hanya sebatas formalitas an sich tanpa melibatkan pemahaman yang utuh tentang urgensi kebersamaan dan perdamaian diantara mereka. Polarisasi di tingkat grassroot yang diikuti oleh konflik kekerasan akhirnya menjadi pilihan utama penyelesaiannya. Prasangka negatif (negative stereotyping) antar individu dan kelompok masyarakat akhirnya dapat merenggangkan ikatan solidaritas sosial dan bahkan menjadi sumber pemicu konflik dan disharmoni. Belum lagi jika dikaitkan dengan berbagai konflik yang terjadi di masyarakat seperti konflik social, ekonomi dan budaya.

Jika dilihat dari realitas tersebut diatas maka seyogyanya integrasi sosial di Indonesia mengedepankan pendekatan yang lebih holistik yang berbasiskan toleransi. Toleransi berarti menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Sikap toleran tidak berarti membenarkan pandangan yang dibiarkan itu, tetapi mengakui kebebasan serta hak-hak asasi para penganutnya.

Dalam masyarakat Indonesia yang beragam atau plural, toleransi akan memegang peran yang sangat penting. Masyarakat yang plural akan memiliki banyak sekali perbedaan, sehingga sangat mungkin perbenturan hak akan sering terjadi. Ketika terjadi persinggungan hak-hak individu dalam masyarakat atau hak-hak masyarakat dalam negara maka toleransi adalah sebuah solusi yang terbaik.

Namun harus diingat bahwa toleransi yang harus hadir adalah toleransi aktif, dan bukan hanya sekedar -meminjam istilah Paul Knitter-toleransi yang malas (lazy tolerance). Dalam toleransi semacam ini, setiap pihak hanya mengakui keabsahan pandangannya masing-masing dan kemudian saling mengabaikan, karena masing-masing mengambil jalan yang memuaskan mereka sendiri.

Segala bentuk persoalan sepelik dan serumit apapun haruslah dicarikan jalan keluar yang terbaik, dengan menghindari jalan-jalan kekerasan sebagai pendekatannya. Apalagi semua agama di dunia sepakat untuk melarang segala bentuk kekerasan.

Selain toleransi, terobosan-terobosan baru juga dapat dilakukan dengan meningkatkan intensitas dan efektifitas koordinasi diantara seluruh komponen yang memiliki potensi konflik. Hal ini dapat dilakukan melalui kerjasama dalam merespons benih-benih-benih konflik yang berpotensi muncul. Dan menambah frekuensi kerjasama nyata di tingkat arus bawah. Hingga akhirya perbedaan yang ada dapat menjadi modal social masyarakat untuk bersatu dalam damai selamanya. Kesadaran akan seluruh perbedaan dan penghargaan atas kebersamaan akan menjadi kunci penting proses integrasi sosial ini. Memang tidak mudah tapi inilah jalan yang terbaik demi kemaslahatan bersama, atas nama Indonesia.

Kata damai memang dambaan seluruh masyarakat tapi perjuangan untuk merelasisasikannya tidak semudah melipat kedua belah telapak tangan kita. Hal ini sesuai dengan pernyataan Albert Einstein, bahwa damai bukanlah sekadar absennya perang, melainkan adanya keadilan, hukum, dan ketertiban.


Semua Paragrap yang di sembunyikan

Read More…

palestina vs israel

Paragraf Pertama
BERMULA dari serdadunya, Kopral Gilad Shalit, yang disekap dan tidak dibebaskan oleh ejuang-pejuang Palestina meskipun sudah diperingatkan, Israel lalu menggempur habis-habisan Gaza City sebagaimana ancamannya. Tercatat lebih dari 40 orang tewas dan lebih 50 orang luka sejak agresi brutal 5 Juli lalu dilakukan Israel. PM Palestina Ismail Haniyah menawarkan gencatan senjata dan Presiden Mahmood Abbas mengirim dua utusan menemui pemimpin politik Hamas Khalid Meshaal di Suriah untuk melakukan upaya peredaan dengan tukar tahanan. Tetapi PM Israel Ehud Olmert tidak menggubris, dan terus melakukan penggempuran sampai serdadunya diserahkan tanpa negosiasi.

Reaksi mengutuk datang dari seluruh dunia terutama dari masyarakat negara-negara mayoritas muslim, termasuk Indonesia sebagaimana disampaikan KH Makruf Amin (10/7) mewakili Majlis Ulama Indonesia (MUI). MUI meminta OKI, PBB, Gerakan Non-Blok, dan G-8 agar menghentikan agresi brutal itu. Lagi-lagi, Inggris dan AS terang-terangan membela Israel dengan menolak keras resolusi kutukan Dewan Keamanan PBB. Sebaliknya, Inggris dan AS justru menyalahkan pihak Palestina. Sementara negara-negara Arab dan OKI tidak berkutik.

Tanpa Perubahan

Hampir undebatable lagi bahwa keberadaan Israel di kawasan Arab itu sengaja dipaksakan oleh terutama Inggris dan AS untuk multi-kepentingannya (multi-interests) endiri dengan legitimasi historis “tanah yang dijanjikan Tuhan” yang bisa diperdebatkan. Multi kepentingan itu antara lain, dijadikan sebagai boneka nakal bagi kawasan Arab untuk bargain minyak. Terbukti, tidak jarang begitu tekanan minyak Arab kuat, lalu AS dan Inggris menawarkan peta damai Palestina-Israel. Begitu negara Arab sudah tertarik, peta damai itu dirunding panjang tetapi kemudian redup lagi. Selain itu, jika keturunan Yahudi tidak diberi negara tersendiri mengkhawatirkan merepotkan Eropa dan AS akibat penyebaran keturunan Yahudi yang menguasai media massa dan ekonomi di Eropa dan AS. Terbukti kelompok lobby Yahudi di AS sangat kuat yang mampu menekan Gedung Putih maupun senat dengan ekonomi dan media massanya.

Negara-negara Arab bukan tidak tahu segala motif itu, tetapi tidak mampu memberi terapi akibat sulitnya persatuan antar negara Arab karena ego masing-masing. Sejumlah pemimpin Arab sering menunjukkan watak oportunis terhadap hegemoni AS begitu menghadapi tekanan. Padahal menurut Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo dalam bukunya Ci Vis Pacem Para Bellum, sikap yang kuat tidak mau dijajah (obyek perang) menjadi kunci kemenangan dalam perang sebagaimana ditunjukkan Vietnam dalam perang melawan AS. Mental ini yang belum muncul merata di kalangan bangsa Arab. Kasus mengundang AS dan Inggris oleh Kwait ketika dianeksasi oleh Irak sementara rakyatnya banyak yang enjoy di bar-bar dan ninght club Eropa, dan kasus serbuan AS ke Irak menunjukkan sikap itu.

Selain masalah mental, kesulitan negara-negara Arab menghadapi tekanan misalnya dari Eropa dan AS dalam berbagai kasus karena modal dan teknologi dalam industri-industri unggulannya terutama minyak tidak dieksplorasi secara independen melainkan mengambil dari Eropa atau AS, kecuali Iran yang mengeksplorasi seluruh kekayaan tambangnya dengan modal dan teknologi sendiri. Akibatnya, posisi tawar minyak bagi rata-rata negara Arab tidak sekuat yang dibayangkan.

Rendahnya penguasaan teknologi tidak hanya pada bidang minyak, tetapi juga mulai dari teknologi kunstruksi, sipil, hingga persenjataan. Kekayaan melimpah dari minyak yang bersifat given itu tidak menjadi modal penguasaan teknologi dan penguatan masyarakat. Untuk mempunyai sesuatu apapun, bangsa Arab lebih suka membeli daripada menciptakan. Padahal, dalam hal perdagangan internasional pilihan itu akan meningkatkan import yang menyedot devisa. Demikian halnya dalam hal persenjataan,. Padahal, bagi negara-negara Arab tidak mudah membli senjata karena dipersulit oleh negara produsen karena harus berada di bawah kemampuan militer Israel. Kemampuan serang maupun defensif sama saja tidak boleh, apalagi mengungguli Israel. Karena itu, meskipun kaya tetapi tak satupun negara Arab yang masuk kategori negara maju, dan disegani di panggung politik internasional.

Selama kapasitas otonom baik mental ataupun non-mental di atas tidak berubah maju, maka selama itu pula tidak akan ada perubahan kebijakan AS dan Eropa yang menguntungkan Arab dalam konflik Palestina-Israel. Kapasitas otonom Arab rendah, maka selamanya akan direndahkan nilai tawarnya. Dengan kata lain, tanpa perubahan itu, konflik Palestina-Israel akan abadi. Dan, perubahan itu dimulai dari mereformasi mental Arab menjadi anti dijadikan obyek perang.

Pengakuan Israel

Sejak zaman Menlu RI Mukhtar Kusumaatmadja, berdasar pengalaman Indonesia, banyak diplomat Indonesia yang menyarankan agar Palestina dan negara-negara Arab lain mengakui keberadaan Israel saja. Kehadiran negara Yahudi di kawasan itu anggaplah sebagai fakta sejarah, karena didukung mutlak oleh kekuatan hegemon dunia. Tetapi saran ini sangatlah sulit dilakukan karena idealisme bangsa Arab. Tetapi, idealisme yang tidak didukung oleh kapasitas obyektif untuk merealisasikannya, hanya akan semakin memperlihatkan rendahnya kapasitas bangsa itu.

Barulah, tidak jauh dari masa-masa akhir Yasser Arafat, pengakuan itu bisa ditanda tangani dalam Perjanjian Oslo. Tetapi pengakuan atas Israel oleh kelompok Fatah itu ditentang keras kelompok Hamas yang tetap menghendaki penghapusan Israel dari peta Timur Tengah (Arab) sampai akhirnya Hamas memenangi pemilu dengan Ismail Haniyah sebagai Perdana Menteri, lalu ‘diboikot” Eropa dan AS.

Pemerintahan yang dikendalikan oleh kelompok anti-eksistensi Israel itu, menjadikan bara politik Timur Tengah naik tajam bersamaan dengan belum selesainya pendudukan AS atas Irak. Serangan Israel ke Gaza City yang di DK PBB didukung mutlak AS dan Inggris dan kasus pendudukan di Irak itu lagi-lagi menjadi bukti nyata bahwa Arab tidak mampu menghadapi dominasi AS (plus Inggris) sebagai kekuatan hegemon tunggal yang mengatur kawasan itu.

Karena itu itu perlu strategi yang lebih realistis. Pengakuan atas Israel perlu juga dilakukan oleh Pemerintahan Hamas sebagaimana Pemerintahan Fatah zaman Yasser Arafat. Meskipun harus diakui, pengakuan itu hanyalah merupakan strategi pragmatis. Tetapi itulah yang bisa dilakukan secara realistis menuju kemerdekaan Palestina. Tidak hanya itu, pengakuan itu juga akan menyisakan masalah perbatasan dan klaim wilayah oleh Israel. Sebab, sudah terlihat sejak awal, PM Ehud Olmert menunjukkan keinginan klaim yang lebih luas atas tanah Arab meskipun harus mundur dari pemukiman dekat Ramalah dan West Bank. Tetapi, untuk sementara no-problem sampai Palestina diakui secara internasional atas kemerdekaannya. Kemerdekaan adalah tonggak perjuangan. Sama halnya dengan Indonesia, begitu merdeka, barulah berunding soal Irian Barat (Papua Barat).

Tanpa melakukan terobosan tajam itu, dipastikan Palestina merdeka justru sekedar impian. Bahkan pengembalian dataran tinggi Golan pun selalu jadi illusi harian untuk kembali ke Mesir. Selebihnya, qaidah fiqhiyah yang populer di NU, bahwa jika tidak bisa mendapat semuanya, jangan tinggalkan sebagiannya (laa yudraku kulluh, laa yutraku julluh), tampaknya relevan untuk diterapkan dalam mengakhiri konflik Palestina-Israel.


Semua Paragrap yang di sembunyikan

Read More…

Kamis, 20 November 2008

Qu bisaa. . .

Pantaskah lisanku berkata?Aku terlambat, aku kehilangan masaApapun yang kulakukan percuma Semua usahaku sia-sia Karena harapanku telah tiada
Lalu, bolehkah aku mengeluh?Ketika cita-citaku menyemu Ketika anganku memudar di langit biru Ketika hari-hari yang berlaku bukanlah harikuKetika ku tahu semuanya tak ada yang pantas bagiku
Ternyata tidak..Tidak..Aku tak pantas berkata begituAku tak boleh mengeluhItulah yang namanya hidup Berputar dan bergulir dalam lingkup Dan tak pernah merasa cukup Sekarang..Masih banyak serakan yang harus ku raup Selagi angin masih bertiup Selagi jantung terus berdegupPintu itu takkan pernah tertutup






Read More…

Kamis, 13 November 2008

keSendiiriiandd

Begitlah hujan bercakap pada rerumputan,
bertaut mesra bercumbu dipucuk kidung awan berwajah muram,
mengiringi redup malam berlabuh di pesisir kenangan masa yg telah usai,
bukanlah bunga lili yg bermekaran dan mengatup seketika senja terlelap,
bukan pula lirih suara burung hantu menyapa dari ujung jiwa terjebak sunyi,
namun sebentuk dekapan membelai hangat kerinduan yg meronta.
Read More…

Quu

Di antara Lelah Jiwa…
Ku Masih Berharap Akan Datangnya Cinta…
Dalam Resah Dan Air Mata…
Menghentikan Duka Yang Ada…
Menggapai Angan Berharap Kasih…
Bersama Bayang Semu Kasih Putih…
Dengan Langkah Yang Tertatih…
Mencari Kasih Cinta Abadi…
Ketika Senja Berlalu Pergi…
Cahaya Malam Menemani…
Kala Sang Bayu Hembuskan Kidung Indah…
Tentang Syair Kasih Cinta Yang Abadi…
Gelap Malam Nan Sepi…
Ku Termenung Dalam Kesunyian Hati…
Sejauh Mata Memandang…
Tak Terlihat Bintang Yang Bersinar…
Temani Kasih Setia Sang Rembulan…
Kecantikkan Sang Rembulan…
Terlihat Kala Malam Datang… Read More…